Sabtu, 20 Juli 2019

JEMBATAN PAKEL SUMBERPUCUNG KAB.MALANG

                                    AKANKAH JEMBATAN PAKEL INI DIBANGUN ?
Pj. Kades Sumberpucung Hj. Ti'ah,S.SosM.Si. sedang menunggu kehadiran 
Bapak Plt. Bupati Malang Drs.H.M. Sanusi,MM. dalam rangka meninjau lokasi rencana Pembangunan Jembatan Pakel


       Jembatan Pakel adalah Jembatan yang menghubungkan Kecamatan Sumberpucung dengan Kecamatan Kromengan. Jembatan Pakel sebuah jembatan Purbakala yang sudah ada sejak dulu kala, ceritanya pada tahun 1980-an baru saja dibangun tetapi terpaksa harus ditenggelamkan karena dibendungnya Sungai Lahor dan Kali Biru untuk mendukung kebutuhan pasokan air Bendungan Sutami Karangkates. Seperti kita ketahui bersama bahwa, Bendungan Sutami adalah Pembangkit Listrik untuk kebutuhan Listrik Jawa Bali. Dibendungnya Sungai Lahor dan Kali Biru dinamakan "Bendungan Lahor". Demi Bendungan Lahor yang bermanfaat untuk kepentingan yang lebih besar, masyarakat Sumberpucung rela Jembatan Pakel ditenggelamkan. Padahal Jembatan Pakel dulunya merupakan urat nadi perekonomian masyarakat Sumberpucung dengan daerah penghasil pertanian dan perkebunan yang besar dari daerah Kromengan dan sekitarnya, dan Sumberpucung merupakan daerah pemasaran hasil bumi yang potensial.
Jembatan penghubung dua Kecamatan ini rencananya akan dibangun kembali namun tidak pada posisi semula tetapi bergeser sedikit ke arah timur dengan bentangan yang lebih panjang dan harus ada jalan tembus menuju jalan lama yang panjangnya sekitar 200 m dari lokasi rencana letak jembatan.
Foto : lokasi rencana pembangunan Jembatan Pakel membentang di atas
Kali Biru yang terbendung Bendungan Lahor.
Bentangan rencana jembatan ini cukup panjang, mungkin teranjang di Malang raya

Antusias warga Sumberpucung sangat tinggi dalam menyambut pembangunan jembatan Pakel ini yang ditunjukan dengan hadir dalam kerja bhakti membersihkan lahan dari semak belukar dan rerumputan liar.
Foto : Giat kerja bakti dalam pembersihan lahan rencana jalan tembus.

       Pada Sabtu pagi 20 Juli 2019 kemarin Bapak Bupati Malang Drs.HM.Sanusi,MM. di dampingi Wakil Ketua DPRD Kab. Malang meninjau langsung ke lokasi untuk melihat lahan yang baru dibebaskan dan berdialog dengan warga Pakel
Foto : Camat Sumberpucung (H.M.Sholeh), Plt. Bupati Malang (HM.Sanusi), Wakil Ketua DPRD Kab.Malang (Unggul), Pj.Kades Sumberpucung(Hj.Ti'ah) dalam dialog dengan warga Dusun Pakel Desa Sumberpucung

Dari dialog ini Bupati Malang menginformasikan bahwa pembangunan jembatan akan dimulai pada tahun 2020 dengan anggaran sekitar Rp. 50 M.
A.    Jembatan Pakel Riwayatmu doeloe
Sebelumnya Kecamatan Kromengan adalah bagian dari Kecamatan Sumberpucung. Kala itu Kecamatan Sumberpucung terdiri dari 12 Desa. topografi wilayah Kecamatan Sumberpucung terbelah oleh Kali Biru yang membujur dari timur hingga sungai Lahor menjadi dua bagian. Terdapat dua buah jembatan penghubung, yaitu Jembatan Sumberpucung-Kromengan dan Jembatan Slorok-Ngadirejo. Kedua jembatan tersebut adalah urat nadi segala aktifitas kegiatan terutama kegiatan perekonomian masyarakat Kecamatan Sumberpucung.
Pada tahun 1980 an Sungai Lahor dibendung untuk mendukung bendungan induk Sutami, dan tenggelamlah jembatan penghubung antara Sumberpucung-Kromengan, jembatan yang menghubungkan desa-desa yang ada di belahan Selatan dan belahan utara Kali Biru. Satu-satunya jembatan penghubung yang ada hingga kini tinggal Jembatan Slorok-Ngadirejo.
Sebagai akibat dari tenggelamnya jembatan Sumberpucung-Kromengan, jarak tempuh desa-desa yang berada di belahan utara Kali Biru menuju tempat-tempat fasilitas umum dan pusat pelayan public yang pada umumnya berada di ibukota Kecamatan Sumberpucung menjadi berlipat ganda jauhnya. Perjalanan timbal-balik masyarakat menuju desa-desa seberang Kali Biru harus ditempuh melalui jalur melingkar karena tidak ada lagi jalan terdekat yang bisa ditempuh, satu-satunya akses jalan darat yang memadai hanya melalui jembatan Slorok-Ngadirejo. Hal ini menjadikan terhambatnya kecepatan akses perjalanan lalu lintas Sumberpucung-Kromengan.
Terputusnya akses Kromengan-Sumberpucung akibat tenggelamnya jembatan telah dimanfaatkan oleh warga sekitar dengan membuka jasa pelayanan penyeberangan perahu, namun karena julur melalui penyeberangan perahu ini sangat tidak memadai, maka jalur ini sepi, jasa penyeberangan perahu tidak se ramai yang diharapkan. Jalur lalu-lintas Sumberpucung-Kromengan melalui Pakel menjadi jalan setapak dan mampet/Mati.
Sebagai ekses terputusnya akses jalan Sumberpucung-Kromengan, beberapa tahun setelah tenggelamnya jembatan itu Kecamatan Sumberpucung dipecah menjadi dua, yakni Kecamatan induk Sumberpucung dan Kecamatan Kromengan pecahannya .    
B.    Ekonomi Desa Sumberpucung tempo doeloe.
Dahulu sebelum jembatan Sumberpucung - Kromengan terputus, Desa Sumberpucung menjadi sentra daerah pengembangan ekonomi yang ramai. Pasar Sumberpucung menjadi pasar hasil bumi dan pasar Hewan yang cukup ramai. Di pertigaan depan masjid Jamek Sumberpucung banyak terdapat gudang milik saudagar Tionghoa. Gudang-gudang itu untuk menampung hasil bumi seperti Kopi, Cengkeh dan lain-lain dari daerah Kromengan, Peniwen, Jambuer dan sekitarnya. Di sepanjang jalan Pakel menjadi jalan protocol yang ramai, banyak berdiri toko/warung kelontong, warung makanan yang cukup ramai pembelinya karena lalu-lintas jalur ini sangat ramai oleh pejalan kaki,  pengendara sepeda angin, dan kendaraan bermotor. Perekonoman rakyat Sumberpucung khususnya Dusun Pakel tergolong cukup makmur karena banyak yang bekerja sebagai pedagang dengan memanfaatkan ramainya jalan protokol Pakel- Kromengan .   
C.     Ekonomi Desa Sumberpucung pasca jembatan di tenggelamkan.
Pasca Jembatan ditenggelamkan, jalan raya Pakel seperti gang buntu, kegiatan perdagangan di sepanjang jalan raya Pakel  menjadi sepi, usaha perdagangan di tempat ini satu persatu gulung tikar, Gudang-gudang milik saudagar Tionghoa satu persatu ditutup dan kini yang tinggal hanya kenangan saja.
Perkembangan Pasar Sumberpucung juga ikut terdampak, karena menjadi sepi, pengunjung tidak se ramai sebelumnya. Hasil bumi dari daerah Kromengan tidak lagi masuk pasar Sumberpucung. Hubungan ekonomi, perdagangan, persaudaraan, pertemanan dan lain-lain antara  orang-orang Sumberpucung dengan orang-orang yang ada di belahan utara Kali Biru menjadi merenggang sebagai akibat sarana perhubungan terputus, jarak tempuh menjadi jauh dan akibatnya biaya perjalanan semakin tinggi menyebabkan acara silaturahmi menurun drastis.
D.  Dampak positif bila Jembatan dibangun: (Ekonomi, Sosbud, Katibmas)
         1.     Sektor Ekonomi.
Jarak tempuh semakin pendek, Harga Tanah meningkat, peluang bisnis semakin menjanjikan, ekonomi rakyat Kromengan – Sumberpucung khususnya rakyat Dusun Pakel akan berkembang Pesat terutama dari sector perdagangan dan aneka industry kecil . Juga sangat berpeluang timbulnya Destinasi wisata baru dengan obyek wisata Jembatan terpanjang di Malang raya.
Selain itu ada peluang lowongan tenaga kerja local sebagai pekerja bangunan, penjual makanan, dan lain-lain.
     2.     Sektor Sosial Budaya.
Semakin dekatnya jarak tempuh akan semakin menjalin keakrapan pertemanan, kekeluargaan dan kerukunan antara warga di dua Kecamatan Sumberpucung-Kromengan.
     3.     Sektor Keamanan
Koordinasi aparat dalam pembinaan keamanan dan penanggulangan Kamtibmas di wilayah ke dua kecamatan semakin mudah dan Cepat.

E.     Dampak negative :
Dampak negative yang timbul secara masiv bisa dikatakan tidak ada, kalaupun ada mungkin terjadi pada usaha jasa Perahu penyeberangan Kromengan-Pakel kemungkinan akan gulung tikar, tetapi masih ada solusi yang bisa ambil, yaitu jasa penyeberangan perahu ini bisa dialihkan ke tempat lain, misalnya penyeberangan Karangtengah-Mentaraman Jatiguwi menuju SMUN 1 Sumberpucung atau mungkin yang lainnya.

F.     Hambatan yang ada.
Kendala Teknis       : Kondisi Sedimen tanah yang gembur/mudah bergerak.
Kendala non teknis : Pembebasan lahan belum tuntas .
Pembiayaan           : Perlu biaya yang cukup besar (berkisar Rp. 50 M)

Denah kasar dan daftar pemilik  lahan yang akan dibebaskan :


        1.     P. Margo                 :           455 m2
        2.     Toyani/P.Tego         :           706 m2
        3.     P.Taip                     :            478 m2
        4.     P. Mansur               :            506 m2
        5.     Pangi                     :               73 m2
        6.     Junaedi                  :           2262 m2

G.    Harapan / himbauan
Diharapkan ada partisipasi dan peran serta masyarakat untuk pembangunan jembatan ini antara lain dengan :
1.     Membantu mempermudah proses pembebasan lahan;
         2.     Menciptakan situasi yang kondusif di lingkungan obyek bangunan;
         3.     Selalu menjaga Kamtibmas;
         4.     Ikut berupaya memperlancar pelaksanaan pembangunan.  
H.    PENUTUP
Semua tantangan dan harapan terhampar lebar dihadapan kita. Semua itu akan dapat kita jangkau manakala ada niat yang tulus dan tekad yang kuat yang mendasari  semangat kita.Insya Allah sepanjang apapun jembatan ini, setinggi apapun biaya pembangunannya, jika Allah menghendaki, maka tidak ada yang mustahil bagiNya, KUN FAYAKUN…
Tetaplah kita berdo’a juga bekerja untuk terwujudnya jembatan ini, aamiin…..

Sumberpucung, 20 Juli 2019
 

3 komentar: