Senin, 22 Mei 2017

HEBOH !!! CANDI MAKAM KEN AROK DITEMUKAN ?

SEJARAH KAMPUNG LEDOK DAN KAMPONG DUNGULAN
Sejarah ini dituturkan oleh mendiang Kamituwo Ketanen (mbah Mustari), yang pernah hidup pada tahun 1912-1997. Adalah seorang Pamong Desa Kamituwo Dusun Ketanen/Tanen Desa Penarukan, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang, Jatim, menjabat Kamituwo sejak tahun 1936-1989. Pada tahun 1984, bercerita kepada penulis mengenai sejarah Penarukan. Menurut keterangannya cerita ini didapat dari kakek buyutnya.
Disebutkan bahwa Dusun Tanen dahulu kala disebut orang dengan nama Kampung Ledok, hal ini disebabkan karena kondisi topografi alamnya dibanding dengan kampong sekitarnya cukup rendah ledok. Diceritakan bahwa konon dahulu kala bila ada pagelaran kesenian Wayang Kulit atau keramaian lainnya, suaranya tidak terdengar sampai di luar kampong ledok, hal ini disebabkan karena kampung ini berada di dalam ledokan, oleh karena itu kampong ledok disebut juga kampong pendem, karena dari kampong ini tidak pernah didengar suara keramaian (seperti kampong terbenam), maka kampong ini disebut Kampung Pendem. Sedangkan nama Ketanen/Tanen itu karena penduduknya adalah orang-orang Tani.
Adapun Desa Penarukan dulunya bernama “Dungulan”, nama ini berasal dari adanya kejadian luar biasa yaitu adanya Kedung yang terjadi hanya dalam kurun waktu sebulan lamanya, namun tidak diceritakan bagaimana proses terjadinya kedung itu dan tidak dijelaskan di mana letaknya. Demikianlah yang diceritakan oleh mbah Mustari tersebut. Cerita ini diceriterakan dari mulut ke mulut oleh orang Tanen maupun Penarukan secara gethok tular lintas generasi, namun cerita itu kini menjadi sangat langka karena sudah tidak lagi ditemukan ada orang Tanen maupun Penarukan yang mendengar cerita ini. Kiranya adalah suatu berkah besar karena penulis menemukan cerita ini dan masih teringat cerita ini, berikutnya dengan segala keterbatasan yang ada penulis berupaya mengabadikan cerita ini dan berupaya menggali sejarah cerita ini gerangan apa sebenarnya yang terjadi.
MENELUSURI ASAL NAMA DESA PENARUKAN
Menurut cerita sejarah Desa Penarukan, nama Penarukan itu lahir didasari dari awal adanya pembangunan sungai molek diperkirakan antara tahun 1888-1900-an. Pembangunan sungai molek itu merupakan proyek besar yang sudah tentu banyak menyedot tenaga kerja. Di lokasi pembangunan sungai molek itu banyak berdatangan tenaga kerja dari berbagai daerah sehingga tempat yang dulunya bernama Dungulan itu dinamakan Palurugan (tempat orang-orang boro bekerja). Para pendatang itu kebanyakan dari Jawa tengah. Dari penelusuran penulis ternyata di Jawa Tengah didapati adanya sebuah desa bernama Penarukan, yaitu terletak di Kecamatan Adiwerna, Kabupaten Tegal. Adanya fakta itu sangat kuat dugaan bahwa orang-orang dari Desa Penarukan inilah yang banyak berdatangan nglurug berkerja ditempat yang dulunya disebut Dungulan ini. Setelah pembangunan sungai molek selesai, Dungulan yang dulunya kering dan tandus, berubah menjadi lahan pertanian yang sangat subur, ini terjadi  karena adanya system irigasi teknis sangat memadai yang hingga kini masih dirasakan. Sebagai dampaknya semakin banyak pendatang dari luar daerah yang mengadu untung ditempat ini, termasuk banyak ex pekerja pembangunan sungai Molek yang menetap di sini, kawin dengan warga setempat dan beranak pinak. Karena banyaknya orang-orang dari Desa Penarukan Jawa Tengah ini yang menetap, maka tempat itu disebut Kampung Penarukan, dan pada saat diadakan pembentukan desa (sekitar tahun 1906-1911), maka tempat yang tadinya disebut orang dengan nama Dungulan itu menjadi Desa Penarukan.
Di dalam wilayah Desa Penarukan ini terdapat sebuah Kampung dan Dusun, yaitu Kampung Mentaraman dan Dusun Ketanen (Tanen). Dinamakan Kampung Mentaraman karena di dalam kampong tersebut banyak dihuni orang-orang yang berasal dari Mataram. Ada terdapat dua dugaan kehadiran orang-orang Mataram di Kampung ini, yaitu : Pertama, kehadiran orang Mataram di sini adalah pada masa pecahnya perang antara kerajaan brang wetan di bawah pimpinan Panji Pulangjiwo yang ingin melepaskan diri dari kekuasaan Mataram, melawan tentara Mataram di bawah Tumenggung Surontani yang akhirnya gugur tahun 1614 M dan dilanjutkan oleh Tumenggung Alap-alap. Panji Pulangjiwo akhirnya gugur karena taktik jebagan Tumenggung Alap-alap, dengan demikian Brang Wetan jatuh ketangan Mataram. Selanjutnya tentara Mataram mendirikan markas pertahanan di Kampung ini, mereka kawin dengan warga local dan beranak pinak, maka jadilah tempat ini disebut orang “Kampung Mentaraman”. Kedua pada saat pembangunan Kali Molek, banyak orang-orang dari Jawa Tengah dalam hal ini orang Mataram yang nglurug bekerja di tempat ini, mereka berkelompok dalam satu kampong, kawin dengan warga local, beranak-pinak dan menetap di kampong ini, maka jadilah tempat ini disebut orang “Mentaraman”.
TERKUAKNYA NAMA DUSUN KETANEN/TANEN.
Menurut cerita kuno, Dusun Ketanen atau Tanen itu dulunya bernama Ledok atau Pendem, dari penulusuran penulis berubahnya nama Kampung Ledok atau Pendem menjadi Ketanen atau Tanen itu terjadi karena adanya urbanisasi besar-besar dari penduduk Tulungagung ke wilayah Malang Selatan, hal ini terjadi sebagai akibat bencana banjir besar yang melanda wilayah Kabupaten Tulungagung. Dan Kampong Pendem menjadi tempat berpindahnya orang-orang dari Desa Ketanon dan Desa Tanen Kabupaten Tulungagung. Mereka menetap dan kawin dengan warga local, beranak-pinak. Karena banyaknya orang-orang dari Ketanon dan Tanen yang tinggal di situ maka kampong yang dulunya bernama Ledok atau Pendem lambat laun disebut orang menjadi Kampung Ketanon dan banyak orang yang menyebut Kampung “Tanen”. Tetapi sejak berdirinya Desa Penarukan maka kampong ini menjadi Dusun “Ketanen”.
terkuaknya misteri lokasi kagenengan
Bermula dari rasa keingintahuan penulis mengenai misteri cerita sejarah Desa Penarukan yang sebenarnya. Nama Desa Penarukan itu lahir setelah dibangunnya Sungai Molek pada sekitar tahun 1900-an pada hal jauh sebelum itu ada cerita nama Dungulan, kampong Ledok dan Kampung Pendem. Selain itu pada sekitar tahun 1960-an penulis pernah melihat dengan mata kepala sendiri adanya penemuan Candi terpendam yang lokasinya berada di dekat Sungai Brantas, arcanya sempat diluarkan dari lobang atap candi, batu-batunya dikembalikan pada posisi semula lalu diuruk kembali, dan arca itu dibeli kolektor benda purbakala bernama Ji Seng, rumahnya di Kepanjen. Juga ada sebuah goa tersembunyi yang disebut “Urung-urung” sebuah tempat pertapaan yang tersembunyi dalam aliran sumber air di pinggiran Kali Brantas tidak jauh dari lokasi Candi. Di samping itu tidak jauh dari lokasi Candi terpendam itu juga pernah ditemukan : uang gobog banyak se Cikar, Lempengan tembaga, perhiasan dari emas se ombyok banyaknya,dan artefak-artefak kuno lainnya. Sayangnya benda-benda kuno itu sudah tidak diketahui rimbanya, kini yang tinggal hanyalah kenangan pernah memegang perhiasan kuno berupa cincin kawin, yang waktu penulis coba memasukan ke jari manis ternyata kebesaran karena ukurannya sebesar Jempol kaki.  
Untuk menguak cerita sejarah itu penulis mulai menelusuri mbah Google mencari informasi sejarah dengan banyak membaca kitab-kitab sejarah seperti Pararaton, Negara Kertagama, cerita-cerita sejarah dan artikel-artikel sejarah yang berhubungan dengan sejarah Malang.
Dari cerita Kitab Pararaton didapat cerita adanya banjir besar dan Gunung meletus. Dari Kitab Negarakretagama didapat cerita pada pupuh 37-39. Dari cerita sejarah Kerajaan Jenggala didapat cerita adanya banjir besar yang sampai mengalihkan arah alur sungai Porong. Dari artikel-artikel bernuansa sejarah Malang para sejarawan sibuk mengidentifikasi lokasi Kagenengan di daerah Wagir dan Pakisaji tetapi hasilnya meragukan alias samar di mana menurut sejarahnya Kagenengan menjadi tempat persemayaman Ken Angrok dicandikan.  Kemudian pada artikel lainnya menyebut bahwa Kagenengan itu sama artinya dengan tempat yang tergenang. Dari penelusuran itu penulis jadi ingat keberadaan candi terpendam itu yang setelah penulis amati dengan seksama ternyata areal candi itu berada pada lokasi bekas genangan banjir sungai Brantas yang hingga kini masih bisa dilihat bekasnya baik melalui udara maupun lewat darat. Bekas genangan banjir itu kini menjadi hamparan sawah yang oleh warga disebut Sawah Beran. Bahkan dari bekas aliran banjir ini akhirnya mengungkap nama Dungulan, Kampung Ledok dan Kampung Pendem, juga nama desa tetangga Kedung Pedaringan. Kejelasan ini penulis dapat dari melihat lokasi melalui Google Map di situ dengan jelas bekas aliran banjir itu mengalir ke kampong Ledok yang sangat dimungkinkan membentuk suatu Kedung yang terjadinya hanya se bulan (Dungulan), selanjutnya aliran banjir itu terus mengalir mencari tempat yang rendah dan masuk ke sungai petung dan jadilah suatu kedung yang dinamakan orang Kedungpedaringan. Dan kampong Ledok yang tergenang banjir itu satu bulan kemudian lumpurnya mengering dan jadilah Kampung Pendem.
Bila benar bahwa Kagenengan itu adalah tempat ini dan candi itu adalah tempat perabuan Ken Angrok, benarkah Desa Penarukan yang kini jadi kelurahan itu dulunya adalah Kutaraja yang kini letak persisnya sedang dicari-cari oleh para sejarawan-wati ? Untuk mencari jawabnya, gali dulu candinya, InsyaAllah akan didapat cerita sejarah baru yang signifikan, bahkan tidak menutup kemungkinan dapat merubah cerita sejarah yang sudah ada. 
Siapa yang menyangka bahwa ternyata didalam hamparan tanah tegalan yang rata ini terpendam sebuah Candi ?

Cerita ini bukan mengada-ada tetapi faktanya memang nyata dan ada. Fakta lainnya adalah kini Kantor Bupati Malang berada di Penarukan, adakah ini merupakan naluri sejarah yang menembus dimensi sejarah, hanya Tuhan yang maha tahu.
Untuk mengenang jasa beliau, cerita ini penulis persembahkan kepada bapak pembangunan Indonesia, pengemban Supersemar mendiang Bapak Suharto.
Bila anda ingin lebih banyak mendapat cerita mengenai Desa di mana letak candi itu berada, silahkan klik di : http://denmbahbei.blogspot.co.id/2017/03/bermaksud-menggali-sejarah-penarukan.html 

Denmbahbei, 11 Maret 2017

3 komentar:

  1. Itu atok dedes gga real tokoh mitos rekaan komik pararaton
    Di negarakretagama dan prasasti2 yg ilmiah gga ada nama2 Arok. Dedes

    BalasHapus
  2. Menurut CC Berg (1953), memang begitu. Tapi sudah disanggah oleh HJ de Graaf (1956). Juga JL Moend

    BalasHapus
  3. Nagarakrtagama, pupuh 36-37, Hayam Wuruk pernah mengunjungi makam ini. Pupuh 40 bait 5, menyebutkan makam Kagemengan adalah Makam Rajasa.

    BalasHapus