Kamis, 03 November 2016

SEJARAH DESA SE KEC.SUMBERPUCUNG





Sejarah desa-desa di Kecamatan Sumberpucung
Semua desa di Kecamatan Sumberpucung mempunyai cerita sejarah yang dituangkan dalam sebuah buku. Sejarah desa tersebut selalu dibacakan pada acara Bersih Desa. (acara pembacaan Sejarah Desa itu disebut Udar Gelung artinya (melepas cerita sejarah yang tersimpan). Udar Gelung ini merupakan salah satu rangkaian pelaksanaan Bersih Desa  yang wajib dibacakan dihadapan warga desa yang hadir dalam prosesi Bersih Desa.   Adapun sejarah singkat masing-masing desa yang ada di Kecamatan Sumberpucung adalah sebagai berikut :
1. Sejarah Terjadinya Desa Sumberpucung.
Sudah menjadi hukum alam bahwa semua makhluk hidup dimuka bumi ini tidak dapat hidup tanpa adanya air. Oleh karena itu semua makhluk hidup selalu berusaha mendapatkan persediaan air yang cukup. Demikian juga halnya dengan manusia, sejak jaman dulu kala hingga sekarang selalu bertempat tinggal di lokasi yang mudah untuk mendapatkan air bersih. Air bersih tersebut secara alami mudah didapat dari Sumber-sumber air yang banyak terdapat diberbagai tempat, mereka pada umumnya mendirikan tempat tinggal di sekitar Sumber Air.
Asal-usul nama Desa Sumberpucung
Di suatu tempat ada sebuah sumber air yang letaknya mudah dijangkau. Persis di atas lokasi sumber air tersebut tumbuh sebatang pohon Pucung yang cukup besar. Sesuai dengn kebiasaan masyarakat Jawa bahwa untuk memberi nama sesuatu tempat yang banyak dikunjungi orang selalu diambilkan dari hal yang luar biasa. Demikian juga nama sumber air yang berada di bawah pohon Pucung yang besar itu dinamai ” Sumber Pucung”.
Karena lokasinya yang nyaman, maka banyak warga yang mendirikan tempat tinggal di sekitar Sumber ”Pucung” tersebut. Lama-lama di sekitar sumber ”Pucung” tersebut menjadi suatu kawasan tempat pemukiman penduduk, sehingga kawasan yang banyak ditinggali penduduk tersebut disebut ”Sumberpucung”.
Pada tahun 1897 Pemerintah Kolonial Belanda membentuk Pemerintahan Kolonial dan sebagai konsekwensinya membentuk pula Daerah Propinsi, Kabupaten dan Desa. Pada pembentukan desa dalam Daerah Kabupaten Malang itu kawasan Sumber ”Pucung” ditetapkan menjadi ”Desa Sumberpucung”.
Wilayah Desa Sumberpucung cukup luas meliputi beberapa kawasan, yakni : Krajan, Rekesan, Pakel , Suko, Sumber ayu, Bandung, Lumbu Peteng dan Karangkates.
Dalam perkembangannya kawasan tersebut dibagi dalam 5 (lima) buah Dusun saja, yaitu : Krajan, Pakel, Suko, Bandung dan Karangkates.
Nama-nama Kepala Desa yang pernah memerintah Desa Sumberpucung :
Mbah Irosari, Pak Daridjah, P. lmah, Singo Dimedjo, Sumowiryo, Djoyo Prawiro Kabul, Pak Toempoek, Saridjan, Radjio, Rebin Mulyo Ardjo, Supriadi Noto Prawiro, Hariyono, Tamat, Hartini, Ti'ah (Pj.), Muhadi sampai saat ini.
Karena luas dan banyaknya jumlah penduduk, maka untuk lebih mempercepat perkembangan kemajuan desa, maka pada tahun 1992 Desa Sumberpucung dipecah menjadi 2 (dua), yakni : Dusun Karangkates dan Bandung digabung menjadi Desa Karangkates.
 
2. Sejarah Terjadinya Desa Jatiguwi.
Pada jaman dahulu kala ada suatu kawasan yang banyak ditumbuhi pohon jati, diantara pohonjati ang tumbuh tersebut ada sebuah pohon Jati yang sangat besar tumbuh di suatu tempat yang letaknya sangat strategis di mana tempat tersebut menjadi tempat melintasnya lalu lalang penduduk antar kawasan. Pohon jati tersebut tergolong sangat langka dan istimewa. Langka karena ukurannya yang besar dan istimewa karena batang pohon jati tersebut berlobang cukup besar, dalam istilah Jawa biasa disebut Growong . pada suatu ketika pemerintah hindia Belanda membangun penjara (Bui) dan membutuhkan bahan kayu Jati. Kayu Jati di kawasan itu kemudian ditebangi untuk memasok bangunan Bui, karena sangat terkenalnya bahwa kayu Jati untuk Bui itu, lama-kelamaan kawasan itu biasa disebut ”Jatibui” dan si kawasan itu sebutannya menjadi ”JATIGUWI” .  Sudah menjadi kebiasaan masyarakat Jawa bahwa untuk memberi nama sesuatu tempat selalu diambilkan dari hal yang luar biasa. Demikian juga nama yang terjadi pada kawasan sekitar jati Growang tersebut dinamai ”JATIGUWI”.
Karena letaknya yang strategis berada pada daerah perlintasan warga antar kawasan yang ada, maka lama kelamaan kawasan tersebut menjadi suatu kawasan yang banyak ditinggali penduduk dan menjadi kawasan yang cukup ramai.
Wilayah Jatiguwi meliputi : Krajan, Mentaraman, Jatimulyo (Kebon Klopo), Singodrono.

3.Sejarah Terjadinya Desa Sambigede.
Dahulu kala Desa Sambigede adalah sebuah Dusun bagian dari wilayah Desa Ngebruk, kemudian dipecah menjadi  sebuah desa tersendiri. Asal mula nama Desa Sambigede berasal dari adanya sebuah pohon ”Sambi” berukuran besar yang akarnya bergelayutan (mbrayut-mbrayut). Pohon tersebut tumbuh disuatu tempat yang letaknya sangat strategis berada didekat jalan perlintasan antar kawasan pemukiman. Pohon Sambi tersebut tergolong sangat langka dan istimewa. Langka karena pada umumnya ukuran pohon Sambi itu tidak ada yang besar (gede) tetapi yang ini sangat besar dan istimewa karena akarnya yang bergelayutan sehingga kala itu orang menamai kawasan sekitar pohon itu dengan sebutan ”Sambigede” atau disebut juga ”Briyut” (diambil dari keadaan akar pohon Sambi yang mbrayut-mbrayut).
Wilayah Sambigede meliputi : Krajan koncar, Kampung Contong, dan hamparan Sawah : sumber buntung, njiwo, sawah gong, sawah gendero, sawah gowok.

4. Sejarah Terjadinya Desa Senggreng
AWAL MULA NAMA SENGGRENG
Di dalam kawasan hutan belantara yang belum terjamah (alas gung lewang-lewung) tentu belum ada namanya. Untuk menandai suatu kawasan di dalam hutan agar mudah dikenali letaknya, adat kebiasan masyarakat jawa dalam menamakan suatu kawasan diambil dari adanya hal-hal yang dianggap paling menarik perhatian yang ada dilokasi tersebut, misalnya : nama Sumberpucung, untuk sebutan suatu kawasan di sekitar sumber air yang didekatnya ada pohon Pucung yang besar. Nama Semaksewu, untuk menyebut suatu kawasan yang di situ tumbuh ribuan ewon (basa Jawa) pohon Kesemak, dan lain-lain.   Demikian juga yang dialami ki Malangjoyo, ki Kromodikoro dan Kromoleo, Mereka bertiga tiba di suatu tempat (sekarang menjadi pasar Senggreng) dan membagi 3 (tiga) wilayah pembabatan. Malangjoyo membabat ke arah timur mendapati daerah hutan Kesemek (kini menjadi Kampung Semaksewu Ternyang), Kromodikoro ke arah barat terus ke selatan (kini menjadi Dusun Ngrancah), Sedangkan Kromoleo kearah barat terus ke utara mendapati hutan beringin dan rawa-rawa. Kini bekas hutan Beringin tersebut menjadi kampung Ringinrejo, dan rawa-rawa itu disebut Rawa Kromoleo (kini menjadi danau buatan). Kromoleo akhirnya bermukim di dekat Sumber air (kini disebut Sumber Kromoleo). dalam membuka hutan belantara (babat alas gung lewang-lewung) telah menamakan salah satu kawasan dalam hutan dengan sebutan Waringinrejo, karena di kawasan itu tumbuh sebuah pohon beringin yang besar dan di sekelilingnya banyak ditumbuhi pohon beringin kecil-kecil yang masih muda (enom). Kawasan itu sekarang kira-kira berada di wilayah belakang Kantor Desa, sehingga pada jaman dahulu kala orang menyebut kawasan senggreng sekarang dengan sebutan Ringinrejo dan ada juga yang menyebut Wringinanom. Suatu ketika di kawasan Ringinrejo (Wringinanom) terjadi angin puyuh sehingga panyak pohon yang tumbang, ada yang dahannya patah, daun-daun lepas beterbangan diterjang angin puyuh sehingga pohon yang tidak roboh hanya tinggal batangnya saja. Ringinrejo yang tadinya teduh dengan tiupan angin yang sepoi-sepoi karena tertahan rindangnya dedaunan, menjadi panas dan tiuapan angin yang cukup kencang karena gundulnya dedaunan.  Setelah terjadinya angin puyuh yang menyebabkan pohon gundul dan menjadikan kencangnya tiupan angin dikawasan itu, terjadilah hal yang aneh, di mana setiap kali ada tiupan angin terdengarlah suara “gembrenggeng” di atas pohon Elo yang tumbuh di sebelah timur pohon beringin yang paling besar. Masyarakat sekitar kawasasn itu banyak yang ketakutan dan saling bertanya-tanya : “ Sing Gembrenggeng “ iku suarane opo dulur ? “ Sing nggereng “ iku suarane opo co ? Semua orang menyebut tentang “ Sing Gembrenggeng “, “ Sing nggereng “ Peristiwa itu menjadi pembicaraan orang karena keanehannya, di mana setelah peristiwa terjadinya angin puyuh kok setiap kali ada angin terdengar suara Gembrenggeng ada yang menyebut nggereng seperti macan dan lain-lain. Melihat adanya keanehan dan keresahan warganya, Petinggi Jogoreso ditemani Pamongnya menyelidiki sumber suara. Setelah diteliti ternyata suara aneh itu berasal dari sebuah batu yang bentuknya mirip genthong yang berada di dahan pohon Elo. Sejak saat itu orang menyebut kawasan itu dengan sebutan “wit elo Singgereng” yang lama-kelaman diambil praktis dan singkatnya saja kawasan itu disebut Singgreng, yang lama kelamaan sebutannya berubah menjadi “Senggreng” hingga sekarang.
Di selatan kawasan Ringinrejo (Wringinanom) ada masyarakat yang mempunyai kesukaan adu jago, suatu saat timbul keanehan di mana saat adu jago terjadi sampyuh (Draw) tidak ada yang kalah dan tidak ada menang. Yang aneh ayam jago sama tangguhnya tidak ada yang kalah maupun menang meskipun kepala dan badannya sobek-sobek tercacah-cacah taji (dalam bahasa jawa) awak lan endase rejeh kabeh ke-rancah jalu. Mendengar kabar keanehan ini banyak para botoh ayam aduan yang berdatangan melihat ayam jago yang tangguh itu. Setelah melihat kondisi ayam mereka bergunjing terheran-heran : “ awak lan endase ke-rancah jalu kok ora mati yho  “ . Sejak saat itu orang menyebut kawasan itu dengan sebutan “Jago ke-rancah” yang lama-kelaman diambil praktis dan singkatnya saja kawasan itu disebut Rancah, dan karena pengaruh logat jawa maka kata Rancah menjadi “Ngrancah”. Saat ini menjadi dusun Ngrancah dalam wilayah Desa Senggreng

5. Sejarah Terjadinya Desa Ternyang
Pada sekitar tahun 1865 datang seorang bernama ”ki Regunung” dan putranya ”ki Truno Wongso”, serta dua orang keponakannya bernama ”Ki Kromo Dikoro” dan ”Ki Rogo Trimo”. . mereka berasal dari Tulungagung. Pada awalnya mereka berhenti di sebuah tempat (saat ini dikenal sebagai Pasar Ngebruk). Dari tempat berhentinya mereka membabat hutan ke arah selatan, kemudian berhenti suatu tempat (sat ini dikenal sebagai Pasar Senggreng). Kemudian mereka membagi diri , Kromo Dikoro dan Rogo Trimo membabat hutan sebelah barat sedangkan Regunung dan Truno Wongso ke arah Timur.
Di sebelah timur mereka menemui sebuah kawasan yang banyak ditumbuhi pohon Kesemek yang ribuan banyaknya sehingga kawasan itu msan itu mereka berinama ”Semak Sewu” .
Di bagian paling ujung timur ada sebuah kawasan yang banyak ditumbuhi pohon ”Juwet” kawasan itu dibabat oleh seorang bernama ki ”Wiryo Dikromo” yang tidak diketahui asa-usulnya, selanjutnya kawasan itu diberi nama ”Turus Juwet” . yang kemudian menjadi ”Desa Turus Juwet”.
Di sebelah utara kedua kawasan itu (Semak Sewu dan Turus Juwet) ditemukan adanya suatu kawasan yang indah dan asri yang banyak ditumbuhi buah-buahan sehingga banyak dikunjungi orang , dan kawasan itu dikenal dengan ”Kebon Sari”. Banyak penduduk di kawasan Semak Sewu yang sering pertamasya ke Kebon Sari, akan tetapi antara kawasan Semak Sewu dengan kebonsari masih banyak dijumpai binatang buas yang berkeliaran, sehingga mereka takut datang ketempat itu sendirian, oleh arena itu kalau ingin datang ketempat itu selalu minta diantar, kalau tidak diantar mereka tidak berani datang ke Kebonsari. Keadaan itu terus berangsung hingga lma ehingga orang lain menyebut penduduk kawasan Semak Sewu sebagai berikut : ”Kalau tidak diantar tidak datang” yang dalam bahasa jawa ” Lek gak diterne gak enyangyang kemudian diambil singkatnya ” TERNYANG” dan kemudian menjadi Desa Ternyang.
Pada tahun 1921 Desa Turus Juwet dan Desa Ternyang dilebur menjadi satu, selanjutnya diberi nama Desa Ternyang .
Demikian sejarah singkat terjadinya desa Ternyang.

6. Sejarah Terjadinya Desa Ngebruk
Asal mula nama Desa Ngebruk.
Pada kira-kira antara tahun 1830-an setelah Diponegoro ditangkap Belanda maka berakhir pula perlawanan tentara Diponegoro. Sejak saat itu tentara Diponegoro  bercerai-berai dikejar-kejar tentara kolonial Belanda. Bekas tentara Diponegoro beserta keluarganya banyak yang mengungsi menyingkir ke arah timur yang masih banyak hutan lebat. Dalam pengungsian tersebut akhirnya sampailah mereka pada suatu tempat, mereka beristirahat dan menumpuh barang-barang bawaannya ”bruk-bruk an” ditempat itu, sehingga ditempat itu menjadi tempat menumpuk/ ngebruk nya barang-barang pengungsi lain yang datang belakangan. (saat ini lokasi tersebut menjadi pasar Ngebruk). Tempat ngebruknya barang-barang itu dijadikan tempat sementra mereka bermukim. Selanjutnya mereka menyebar di berbagai tempat secara berkelompok membuka hutan belantara untuk dijadikan ladang pertanian (ada yang ke arah selatan, utara, timur maupun barat). Dalam perkembangannya tempat itu disebut ”NGEBRUK”. Mereka sekaligus mendirikan tempat tinggal di sekitar ladang tersebut menjadi kampung tempat tinggal. Penduduk setempat menyebut mereka sebagai orang Mataram, sedangkan perkampungannya disebut Mentaraman. Hingga saat ini di Daerah Kabupaten Malang  masih banyak dijumpai adanya Kampung Mentaraman. Misalnya di Kecamatan Sumberpucung ada di Desa Jatiguwi dan Desa Ngebruk.
Setelah menjadi sebuah desa, Wilayah Desa Ngebruk kala itu meliputi , beberapa dusun : Kebonsari, Mentaraman, Mbodo, sambigede. Dalam perkembangannya Dusun Sambigede dipecah tersendiri menjadi sebuah desa, yakni : Desa Sambigede.

7.Sejarah Terjadinya Desa Karangkates
Pada mulanya Desa Karangkates adalah sebuah Dusun yang masuk dalam wilayah administrasi Desa Sumberpucung. Desa Sumberpucung wilayahnya cukup luas dan jumlah penduduknya juga cukup banyak. Dengan maksud agar pelaksanaan pembangunan di Desa Sumberpucung berkembang lebih pesat, maka pada tahun 1992 Desa Sumberpucung dipecah menjadi 2 (dua) bagian, yaitu : Desa induk (Sumberpucung) dan Desa Karangkates. Untuk menuju menjadi Desa definitif , terlebih dahulu harus melalui tahapan yaitu menjadi Desa Persiapan Karangkates (tahun 1992-2002), dan selanjutnya Desa Karangkates ditetapkan menjadi desa definitif pada tanggal 14 Pebruari 2002.
Nama-nama Kepala Desa yang pernah memerintah : Wasito, Tukidi, Tukimun, Tri Wahyudi (P.Gayong), Sudjono Fakrim,S.Pd.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar