Minggu, 12 Februari 2017

WARUNG 6 (ENAM) JAMAN

Warung Jaman Kolobendu alias Biyen (warung turun temurun 6 jaman)
SUDAH ADA SEJAK 1932

Letak geografi Sumberpucung sangat strategis, dari dulu hingga kini cocok untuk usaha kuliner. Rupanya sudah menjadi kodrat Ilahi bahwa letak geografi Kecamatan Sumberpucung yang berada di perbatasan antara Malang-Blitar sejak jaman kolobendu hingga kini menjadi daerah transit yang sangat strategis. Dahulu kala semasa kejayaan kerajaan Daha, Panjalu, Kadiri, Jenggala, Kauripan, Singhasari, letak geografi Kecamatan Sumberpucung diperkirakan berada di tengah-tengah pusaran perbatasan  kerajaan-kerajaan tersebut, makanya Kecamatan Sumberpucung selalu menjadi pergulatan pengaruh dari kerajaan-kerajaan itu karena letaknya yang strategis. Sejak dahulu kala lalu-lintas manusia yang melewati Sumberpucung selalu ramai, cuma bedanya kalau dulu jalan kaki lewat jalur kali (karena jalan belum ada), kalau sekarang lewat jalan raya.
Diperkirakan pada sekitar abat 18 sudah mulai dibangun jalan dan jembatan, seiring dengan itu alur lalu-lintas pun beralih dari semula melalui alur sungai selanjutnya beralih ke alur jalan darat. Dari sinilah rumah-rumah di tepi jalur jalan darat di Sumberpucung mulai berkembang dan jalan raya Sumberpucung menjadi jalur utama arus lalulintas Malang-Blitar. Diperkirakan pada masa itu kendaraan yang melewati jalan raya Sumberpucung berupa : Gerobak, Pedati, Delman, kuda tunggangan dan juga pejalan kaki. Pada tahun 1888 angkutan masal Kereta Api Malang-Blitar mulai dibangun, istimewanya di Kecamatan Sumberpucung dibangun 3 (tiga) buah stasiun, yaitu : Ngebruk, Sumberpucung, dan Karangkates, ini menunjukkan bahwa sejak dahulu Sumberpucung merupakan jalur transit perkembangan ekonomi yang baik, lalu-lalang lalu-lintas cukup ramai, hal inilah yang dibaca oleh penduduk setempat untuk mendirikan warung-warung dipinggir jalan. Pada umumnya warung-warung itu bertahan lama karena tak pernah sepi pembeli, terbukti ada warung yang telah berdiri sejak tahun 1932 secara turun temurun hingga kini tetap beroperasi . Warung kolo bendu yang sudah mengarungi 6 jaman ini ( jaman Belanda, Jepang, Kemerdekaan, Orde Lama, Orde Baru dan jaman reformasi) sudah berganti  4 (empat) generasi. Kalau dulu warung ini belum ada namanya kini telah diberi papan nama “ Warung Biyen ” Karangkates.
Riwayat Warung Biyen.
Warung ini pertama kali dibuka pada tahun 1932 oleh Nyai Kembar . Menu yang tersedia, yaitu : Nasi Pecel, Dawet, Rondo Royal (Tape Goreng), Kojor (Sepe Goreng), Godoh (Gedang Goreng), menu-menu kelas mantab di perut yang khas ala desa. Letak warung di lor embong (sebelah timur warung yang sekarang). Setelah 30 tahun membuka warung ini, mbok Kembar merasa tenaganya sudah tua, oleh karena itu ia digantikan anaknya bernama mbok Ngatirah untuk melanjutkan warung itu.
Pada tahun 1962 usaha warung ini turun ke generasi kedua, yakni anaknya mbok Kembar bernama ” Ngatirah” , sedangkan lokasi warung dipindah ke kidul embong (depan warung yang sekarang).  Selama dipegang mbok Ngatirah menu lama tetap dipertahanan. Mbok Ngatirah menjalankan usaha ini sampai sekitar 29 tahun lamanya, selanjutnya usaha itu dilanjutkan oleh anaknya bernama “Sumiati” 
Tada tahun 1991 usaha warung ini turun ke generasi ke 3 (tiga) mbak Sumiati. Menu yang lama tetap dipertahankan, tetapi seiring dengan kemajuan jaman maka menunya ditambah dengan menu yang lagi ngetren, yaitu : aneka olahan ikan dan udang, pelasan ikan, Rawon,  Soto, urap-urap, Lodeh, Nasi Campur. Lokasi warung di kidul embong (depan warung yang sekarang). Tetapi pada tahun 2005 mbak Sumiati mengalami musibah Lakalantas sehingga meninggal dunia. Usaha warung itu sempat mandeg beberapa waktu.
Pada tahun 2006 usaha itu akhirnya di oper-alih oleh ibu Umi Kulsum Tukimun, yang masih ada garis keturunan dengan mbok Kembar.   Menu yang disajikan adalah Nasi Pecel  mbok Kembar, dan yang lainnya adalah: Kare Ayam Kampung, Soto Daging, Pecel, Campur, sedang menu favoritenya adalah kotokan ikan Nila/mujaer.  Lokasi warung pun kini berpindah, dari yang semula di kidul embong kini beralih di Lor Embong, yakni ditempat yang sekarang berada, persisnya di sebelah utara jalan raya + 500 meter sebelah timur Bendungan Sutami.  Warungnya tidak begitu besar, kebersihannya terjaga, rasa masakannya tidak garang dan tidak cemplang, terasa pas dilidah yang menikmatinya. Harganya, sangat-sangat terjangkau. Pokoknya, selera bos harga anak kos lah. Setiap mereka yang pernah makan di warung ini pasti akan mengeluarkan pernyataan ancaman : “ suatu saat akan kembali ke sini lagi dengan mengajak teman yang lebih banyak”. Dan bu Umi serta P.Tukimun menjawab ancaman itu dengan santun : “Terima kasih, monggo, saya tunggu, saya tidak takut dengan ancamannya”. Ha..ha..haa.. itulah kelekar si pelanggan dengan pengelola Warung Biyen Karangkates.  Disamping melayani pelanggan yang datang, ternyata warung Biyen juga melayani banyak pesananan baik dalam partai kecil maupun partai besar.
Sosok ibu Umi Kulsum (pengelola Warung Biyen).
Ibu Umi Kulsum ini adalah isteri Kepala Desa Karangkates (Pak Tukimun) yang masa jabatannya dari 2003-2013, kini telah pensiun. Semasa masih menjadi  ibu Kepala Desa, ibu Umi Kulsum dikenal pejabat setempat yang sering dijamu makan sewaktu ada acara desa, adalah ibu lurah yang pandai olah-olah masakan, setiap masakan yang disajikan oleh ibu Umi Kulsum selalu ludes disikat habis oleh para tamu. Oleh karena itu hingga kini warung Biyen banyak dikunjungi  para pejabat setempat untuk makan siang di sini, meskipun kondisinya berbeda, yakni kalau dulu dilayani ibu Umi makan gratis kini harus bayar, tetapi yang tidak berbeda adalah sedapnya masakan bu Umi dan ramahnya sambutan pak Tukimun.  Bu Umi ini orangnya ramah, santun dan selalu menjaga kebersihan. Demikian juga dengan Pak Tukimun, orangnya ramah, supel dan suka berkisah legenda sejarah sehingga tidak ada bosannya bertukar kisah dengannya.

Di samping itu meskipun orangnya disegani oleh kalangan warga setempat namun beliau tetap rendah hati dan tanpa canggung akan menyediakan minuman yang dipesan para pelanggannya dan mengantar sendiri minuman itu ke meja pelanggannya.
Bila anda sedang dalam perjalanan antara Malang-Blitar pasti melalui Warung Biyen,  bila berkenan coba mampir dahar disini untuk membuktikan cerita adanya sensasi warung yang sudah ada sejak tahun 1932, pasti puas dan tidak akan menguras isi dompet. Bila selesai makan pelanggan boleh membuat ancaman-ancaman serupa yang tadi, ha..ha..haa.. selamat menyinggahi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar