Minggu, 24 September 2017

PERLUNYA MENGGALI SEJARAH DESA JATIGUWI

JAS MERAH ( Jangan sekali-kali melupakan sejarah), Bung Karno.

Patung Durgandini yang ditemukan di Dukuh Mentaraman Desa Jatiguwi Th.2015

Jangan melupakan sejarah, karena sejarah masa lalu berkait pula dengan keadaan masa selanjutnya. Sejarah masa lalu yang indah, akan menurunkan generasi yang indah. Masa lalu yang kelam, akan menurun generasi yang suram, ibarat pepatah : Buah jatuh tak akan jauh dari pohonnya, pohon yang sehat akan menghasilkan buah yang sehat pula, Kacang ora bakal ninggal lanjaran, Polah bopo koyo semprul polah atmojo ora bakalan mujur.
Sejarah panjang Desa Jatiguwi amat menarik untuk ditelusuri sampai sejauh mungkin yang bisa digali. Ditengarai bahwa Jatiguwi adalah desa kuno, hal ini terindikasi adanya beberapa  peninggalan benda purbakala berupa Arca Durgandini di Dusun Mentaraman (ditengarai terdapat sebuah candi),
 

Makam mbah mbodo, juga masih terdapatnya pegiat Kesenian Tradisional dan Budaya Kuno yang berkembang hingga saat ini, seperti : Topeng Malangan jatiguwi, Langen Beksan, Wayang Kulit, Gending-gending jawa dan kesenian Kuda Lumping, dan lain-lain. Sedangkan budaya-budaya kuno yang berkembang antara lain : budaya gotong-royong, budaya metri mulai dalam kandungan, lahir nikah hingga mati, budaya selamatan desa, dan masih banyak lagi yang lainnya.
Cerita sejarah Desa Jatiguwi yang ada saat ini dan biasa dibacakan pada acara Bersih Desa, yakni: “Udar Gelung”, dinilai perlu diperbaiki kembali karena isi pembahasan sejarahnya kurang jauh kebelakang sampai dengan jaman Mojopahit maupun pada zaman Mataram pasca keruntuhan Majapahit, pada hal potensi untuk menggali sejarah itu ada. Cerita sejarah yang ada saat ini sepertinya baru pada pasca kekalahan Pangeran Diponegoro dalam perang jawa tahun 1825-1830 M kemudian banyak pengungsi datang ke Jatiguwi dalam kisaran tahun 1850-an M. Sedangkan makam mbah mBodo ditengarai ada sejak abd ke 16, belum lagi temuan arca di Dusun Mentaraman diperkirakan pada masa Majapahit abad 13.
Pada umumnya semua desa berkeinginan memiliki cerita sejarah yg akurat dan dibukukan, tetpi upaya untuk menyusun sejarah desanya secara akurat hanya retorika belaka, tidak ada upaya yang serius dengan membentuk tim penggali sejarah desa yang diperkuat dengan dana anggaran yang memadai untuk penelitian sejarah desa. Sebagai hasil dari ketidak-seriusan penelitian sejarah desa ini, yang didapat adalah hanya sebatas asal-usul nama desa yang digali dengan jurus OAG (Otak Atik Gatuk), dan nama-nama kepala desa yang pernah menjabat di desa tersebut.
Secara kasar bahwa Desa Jatiguwi sudah ada sejak jaman Majapahit, dalam kitab Negara kretagama pernah disebut  adanya nama “Jatikuti” sebagai desa yang dibebaskan dari upeti tapi berkewajiban membina tempat pemujaan (Candi) tahun 1356-1387 M, Masuknya orang orang Mataram thun 1613 M yang di bawah Tumenggung Surontani awal adanya Dusun Mentaraman, kehadiran pengungsi anak buah Diponegoro 1830 M < , pembangun Sungai Molek dan kehadiran orang-orang dari Tulungagung ke Dusun Jatimulyo, pembentukan Desa Jatiguwi  dengan SK Pemerintahan Hindia Belanda berkisar tahun 1911-1924 M. Kehadiran orang Mataram di Singodrono, hingga masa penjajahan Jepang, masa Kemerdekaan, hingga saat ini.
Di samping itu sejarah perkembangan Seni Budaya di Desa Jatiguwipun dapat di telusuri, seperti Tari Topeng, Wayang Kulit, Langen Besan, (kesenian yang berkembang sejak jaman Mojopahit), Kesenian Kuda Lumping (dari Tulungagung), dan lain sebagainya.
Betapa hebatnya Desa Jatguwi jika memiliki buku sejarah yang akurat dan dicetak dalam buku sejarah desa, sehingga dapat dibaca oleh seluruh lapisan masyarakat baik kalangan pelajar maupun masyarakat umum. Dengan demikian maka masyarakat Jatiguwi patut berbangga hati setelah mengetahui jatidiri desanya.

Denmbahbei, 1 Syuro





Tidak ada komentar:

Posting Komentar