Minggu, 30 Juli 2017

SANGGAR PASINAON PAMBIWORO KRATON SUROKARTO HADININGRAT PANG MALANG ING JATIGUWI


 

Kiranya kita sama-sama menyadari bahwa akibat globalisasi saat ini di samping pengaruh yang positif, ternyata dampak negative yang ditimbulkan cukup besar pengaruhnya terhadap nilai-nilai moral adat dan budaya ketimuran yang selama ini kita junjung tinggi. Dalam hal ini Adat/budaya ketimuran yang kita maksud adalah orang yang dalam tata dan perilaku kehidupan kesehariannya mengikuti norma adat dan kebiasaan sesuai Budaya Jawa yang adiluhung. Kini pengembangan nilai adat/budaya Jawa yang Adiluhung ini sangat minim sekali. Perkembangannya boleh dikatakan jalan ditempat bahkan boleh dibilang melangkah mundur karena terlindas pesatnya pengaruh globalisasi. Sudah sejak lama di sekolah tidak diajarkan lagi mata pelajaran pendidikan Budi Pekerti yang identik dengan Pengetahuan Budaya Jawa yang adiluhung itu. Pada hal di dalamnya berisi : Tata krama (sopan santun), tata bahasa, tata busana, seni-budaya yang sangat sesuai dengan norma dan nilai kejiwaan bangsa kita. Apalagi baca tulis huruf jawa, bagi anak-anak jaman sekarang huruf jawa dianggap tulisan aneh, pada hal huruf-huruf itu kreasi asli nenek moyang kita yang mengandung filosofi dan penuh makna. Justru Pelajaran bahasa Inggris menjadi pelajaran wajib. Kita yang hidup di negara Pancasila ini sudah cukup lama tidak mengenyam mata Pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP) yang dihapus dari kurikulum pendidikan di sekolah dan diganti dengan Pendidikan Kewarganegaan (PKN) yang tak menyentuh moralitas yang menjiwai nilai-nilai Pancasila. Boleh dibilang bahwa saat ini kita telah kehilangan satu generasi berbudi pekerti luhur akibat dihilangkannya mata pelajaran Budi Pekerti. Sebagai dampaknya dapat dilihat dan dirasakan saat ini, di dalam kehidupan sehari hari tata krama sudah tidak menjadi tata aturan pergaulan yang dipedomani, tata bahasa sudah campur aduk tak sesuai dengan pakemnya, tata busana sudah tidak lagi mengindahkan nilai kesantunan, seni tradisional dianggap kuno dan membosankan, budaya jawa dianggap JADUL yang sudah tidak sesuai dengan perkembangan jaman. Ini semua menjadi pertanda mulai menipisnya nilai-nilai moral dan adat budaya bangsa ini. Ironisnya, justru bangsa-bangsa lain sangat antusias belajar Budaya Jawa yang adiluhung. Kita tentu pernah melihat di layar TV bagaimana orang manca negara dengan bangga berbusana tradisional jawa, memainkan Gamelan, melantunkan tembang jawa. Tetapi justru anak-anak negeri sendiri lebih bangga berbusana compang-camping dengan dalih mengikuti mode yang lagi ngetrend, bangga memainkan musik-musik Metal. Pertanyaan kita, apa yang kini sedang terjadi ? oleh karena itu apabila kita tidak berbuat sesuatu, tidak menutup kemungkinan suatu saat nanti justru kita yang akan belajar di negeri orang tentang Budaya kita sendiri.  Ada suatu cerita lucu, di dalam suatu bus yang sedang berjalan, ada seorang penumpang turis bule yang duduk dibelakang sopir. Secara berkelekar si Sopir menyuruh kondekturnya untuk menanyai si Turis bule. Dengan bahasa jawa Sopir itu menyeru kepada sang Kondektur : ” He kondektur, coba takonono Wedus gik mburiku iki arep mudun ngendi” ? tanpa disangka tiba-tiba si Turis Bule menjawab dengan bahasa jawa : ” Weduse bade mandap solo, mas” . si Sopir terkejut dan tersipu-sipu malu, dan jadi bahan tertawaan penumpang dalam bus itu. Nah, memalukan.   
Pengaruh negatif dari arus globalisasi dengan mudahnya merasuki jiwa anak-anak, bahkan orang-orang dewasa tak sedikit yang terbawa arus terkena pengaruh negative yang beraneka ragam bentuknya. Kiranya kita semua sepakat bahwa untuk mencegah masuknya pengaruh negative dalam kehidupan ini adalah dengan cara membentengi diri dengan budaya asli bangsa kita. Kita memang dituntut untuk berpacu dengan waktu mengikuti laju perkembangan jaman guna mengejar masa depan ke arah keadaan yang lebih baik, namun bukan berarti harus mengorbankan adat budaya yang adiluhung ini. Dalam salah satu bait lagu kebangsaan kita “Indonesia raya” di situ tersebut kalimat “ Bangunlah Jiwanya, bangunlah badannya, untuk Indonesia raya”. Dari kalimat ini para pendiri negeri ini mempunyai cita-cita ingin agar rakyat Indonesia mempunyai jiwa yang berkarakter dan tangguh untuk dapat membentengi diri dari pengaruh negative, yang pada ujungnya dapat mengisi kemerdekaan ini dengan perbuatan positif untuk kesejahteraan bersama.
Bila membaca situasi dan kondisi saat ini kami melihat bahwa, dengan cerdas Pemerintah Kabupaten Malang di bawah kepemimpinan Bang H. Rendra Kresna menyikapinya dengan visi dan misi “ MADEP MANTEB” yang secara sederhana kami tangkap maksudnya bahwa, jajaran manajemen Pemerintah Kabupaten Malang dalam penyelenggaraan pemerintahannya ingin mewujudkan mimpi pendiri negeri ini dengan menciptakan masyarakat Kabupaten Malang yang berkarakter : Mandiri, Agamis, Demokratis, Produktif, Maju, Aman, Tertib dan Berdaya Saing. Artinya dan maknanya bahwa : ”masyarakat yang mandiri tentu masyarakat yang berkualitas, karena mustahil masyarakat yang tak berkualitas mampu mengatasi segala permasalahannya. Masyarakat yang berkualitas sudah tentu dalam menjalani kehidupan social kemasyarakatannya selalu berpedoman kepada norma-norma adat dan budaya bangsa sendiri, yang dilaksanakan selaras dengan norma agama yang di dalamnya mengandung norma hukum dan norma kepatutan. Azas demokrasi menjadi pegangan dalam pandangan politiknya, mereka sangat produktif dalam berbagai hal yang positif karena kualitas pengetahuan dan kemampuannya yang memadai. Dengan masyarakat yang berkualitas, Negara (khususnya Kabupaten Malang) akan maju, situasi dan kondisi keamanan terjamin, semua giat masyarakat berjalan tertib dan teratur, maka oleh karena hal demikian maka daya saing (nilai tawar) masyarakat Kabupaten Malang sangat kompetitif dan berkualitas tinggi dan disegani.
Dari uraian tersebut secara sederhana dapat disimpulkan bahwa roh dari visi-misi “Madep Manteb” adalah terletak pada pembangunan masyarakat yang berkarakter adat dan budaya lokal namun agamis, karena dengan masyarakat yang teguh melestarikan Budaya lokal tetapi tetap taat menjalankan tuntunan agama maka masyarakat berkualitas yang diharapkan secara harfiah akan mudah terwujud. Menurut kami masyarakat yang berkualitas adalah terdiri dari individu-individu yang berkarakter, beriman dan berilmu, trampil dan berdaya saing.
Sangat terasa sekali bahwa “Madep Manteb” adalah merupakan pengejawantahan dari pola hidup sehari-hari masyarakat Kabupaten Malang, dapat dibilang bahwa “Madep Manteb” adalah kristalisasi karakter dari masyarakat Kabupaten Malang. Sungguh brilyan jajaran manajemen Pemerintah Kabupaten Malang dalam menggali dan menelorkan visi misi “Madep Manteb” dalam membangun Kabupaten Malang tercinta ini karena dengan visi misi ini akan membimbing masyarakat Kabupaten Malang ke arah yang tepat dan benar .
Visi-misi Kabupaten Malang “Madep Manteb” yang cerdas itu menjadi semakin mempunyai daya dorong yang kuat dan daya gelitik yang sangat merangsang masyarakat untuk mewujudkannya setelah disuntik dengan motto “ Berpikir maju, Bertindak nyata, Berhasil bersama”, sebab bagaimanapun bagusnya suatu konsep, tanpa adanya tindakan nyata dari masyarakat yang berpikiran maju mustahil akan menghasilkan prestasi. Dan suatu prestasi yang dihasilkan dari langkah nyata yang dilakukan oleh masyarakat yang berpikiran maju tersebut akan menjadi kebanggaan dan dirasakan bersama seluruh warga Kabupaten Malang tanpa harus ada yang merasa sok pahlawan.  Hal ini merupakan suatu ajakan merajut rasa kebersamaan kepada seluruh elemen masyarakat untuk membangun Kabupaten Malang. Berhasil tidaknya visi misi yang baik ini tergantung dari keseriusan implementasinya.
Para pengurus Sanggar bersama Bupati Malang "Rendra Kresna"

Menyikapi kondisi ini sekelompok warga Kecamatan Sumberpucung yang pernah belajar pawiyatan Budaya Jawa pada Sanggar Pasinaon Pambiworo Kraton Surakarta Hadiningrat berkehendak ikut nguri-uri Budoyo Jowo , dan sejak tahun 2014 di Sumberpucung telah berdiri Sanggar Pasinaon Pambiworo Kraton Surakarta Hadiningrat cabang Malang. Pada waktu pembukaannya dihadiri sendiri oleh rombongan bangsawan dari Kraton Solo yaitu : GRA. Wandan Sari , KPH. Raditya Lintang Sasongka (BRM. Bambang Irawan), Dr. Ir. KRT. Sunarto Manirat Dwijonagoro, M.P), dan lain-lain.
Hingga tahun 2017 sudah 3 angkatan yang berhasil lulus, dan diwisuda di Kraton Solo. 
        Bagi anda yang berminat mengikuti pembelajaran, dapat mnghubungi no WA : 0812 3395 5566 

Denmbahbei, 30 Juli 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar